Senin, 27 Januari 2014

Contoh Makalah Kebijaksanaan Pemerintah

BAB I
PENDAHULUAN
1.1  LATAR BELAKANG
Sebagaimana diketahui bahwa negara Indonesia sedang dilanda krisis ekonomi yang berlangsung sejak beberapa tahun yang lalu. Tingginya tingkat krisis yang dialami negri kita ini diindikasikan dengan laju inflasi yang cukup tinggi. Sebagai dampak atas inflasi, terjadi penurunan tabungan, berkurangnya investasi, semakin banyak modal yang dilarikan ke luar negeri, serta terhambatnya pertumbuhan ekonomi. Kondisi seperti ini tak bisa dibiarkan untuk terus berlanjut dan memaksa pemerintah untuk menentukan suatu kebijakan dalam mengatasinya.
         Krisis Ekonomi adalah salah satu dilema yang sedang dihadapi Indonesia sejak dahulu hingga sekarang. Ini adalah dinamika kehidupan ekonomi yang tidak tetap perubahannya. Kadang sistem ekonomi dunia naik, kadang sistem ekonomi dunia merosot drastis. Ini menyebabkan gejolak besar bagi kehidupan ekonomi seluruh dunia, tak terkecuali Indonesia. Akibat langsungnya adalah meledaknya harga kebutuhan pokok di Indonesia. Sebelumnya saja sudah menjepit dompet masyarakat dan kini semakin menekan sektor-sektor usaha yang menyediakan kebutuhan tersebut. Misalnya: Petani yang menyediakan sayur mayur kini kesulitan dalam mencari pupuk yang murah, padi menjadi kurang subur dan pasokan yang terbatas membuat harga beras melonjak. Ini adalah satu dari ribuan keluhan masyarakat dalam merasakan dampak buruk dari krisis global ini.
Krisis Ekonomi 1997 memporak-porandakan perekonomian global. Tidak memandang perekonomian negara berkembang ataupun negara maju. Walaupun krisis ini lebih populer dikenal dengan sebutan “KRISIS ASIA”, tetapi tidak hanya negara Asia saja yang terkena dampaknya.Semua terkena dampak dari krisis ini, yang pada akhinya berdampak pada menurunnya kualitas kesejahteraan tiap warga negara. Ini disebabkan sektor moneter tidak pernah,dan tidak akan pernah,lepas kaitan dengan sektor riil. Karena bagaimanapun, keberadaan sektor moneter dengan segala kebijakan dan berbagai lembaga keuangan yang menopangnya tidak bisa berdiri sendiri. Sehebat dan secanggih apapun sektor ini, pada dasarnya merupakan fasilitator bagi sektor real.


1.2   Rumusan Masalah
            Adapun rumusan masalah dari makalah ini adalah sebagai berikut :
a.       Apa itu krisis ekonomi ?
b.      Bagaimana krisis ekonomi itu bisa terjadi  ?
c.       Apa saja kebijaksanaan pemerintah dalam mengatasi krisis ekonomi ?
d.      Apa saja paket kebijakan yang telah dikeluarkan oleh pemerintah ?

1.3   Tujuan Pembahasan
        Supaya mahasiswa dapat lebih kritis terhadap situasi krisis ekonomi  yang mana sekarang menjadi topik hangat dan dilema luar biasa bagi seluruh dunia. Paling tidak mahasiswa dapat memecahkan masalah kecil yang berhubungan dengan krisis ekonomi global tersebut. Diharapkan pula makalah ini dapat menjadi acuan belajar dalam mempelajari permasalahan ekonomi di Perguruan Tinggi.
      Supaya kita juga mengetahui apa saja hal-hal penyebab terjadinya krisis ekonomi dan kita juga dapat mengetahui apa saja langkah-langkah yang dapat diambil oleh pemerintah dalam mengatasi krisis moneter.
















BAB II
PEMBAHASAN

2.1  Pengertian Krisis Ekonomi
 Krisis ekonomi Global merupakan peristiwa di mana seluruh sektor ekonomi pasar dunia mengalami keruntuhan dan mempengaruhi sektor lainnya di seluruh dunia. Ini dapat kita lihat bahwa negara adidaya yang memegang kendali ekonomi pasar dunia yang mengalami keruntuhan besar dari sektor ekonominya. Bencana pasar keuangan akibat rontoknya perusahaan keuangan dan bank-bank besar di Negeri Paman Sam satu per satu, tinggal menunggu waktu saja. Bangkrutnya Lehman Brothers langsung mengguncang bursa saham di seluruh dunia. Bursa saham di kawasan Asia seperti di Jepang, Hongkong, China, Asutralia, Singapura, India, Taiwan dan Korea Selatan, mengalami penurunan drastis 7 sd 10 persen. Termasuk bursa saham di kawasan Timur Tengah, Rusia, Eropa, Amerika Selatan dan Amerika Utara. Tak terkecuali di AS sendiri, Para investor di Bursa Wall Street mengalami kerugian besar.
Definisi krisis ekonomi adalah istilah yang digunakan pada bidang ekonomi dan mengacu pada perubahan drastis pada perekonomian. Perubahan ekonomi yang terjadi secara cepat tersebut mengarah pada turunnya nilai tukar mata uang dan harga kebutuhan pokok yang semakin tinggi. Krisis ekonomi dapat melanda suatu negara apabila perubahan perekonomian sudah tidak dapat dibendung lagi.

2.2  Penyebab terjadinya krisis ekonomi
Ø  Penyebab Krisis Ekonomi Menurut Para Pakar :
·         Fenomena productivity gap (kesenjangan produktifitas) yang erat berkaitan dengan lemahnya alokasi aset ataupun faktor-faktor produksi.
·         Fenomena diequilibrium trap (jebakan ketidak seimbangan) yang berkaitan dengan ketidakseimbanagan struktur antarsektor produksi
·         Fenomena loan addiction ( ketergantungan pada hutang luar negeri) yang berhubungan dengan perilaku para pelaku bisnis yang cenderung memobilisasi dana dalam bentuk mata uang asing (foreign currency).

Krisis yang terjadi di Indonesia terjadi secara tiba-tiba, tidak ada indikator yang menjadi peringatan awal akan datangnya krisis. Bahkan Bank Dunia pada tahun 1998 menilai dan menyatakan bahwa “Indonesia sedang mengalami krisis yang parah. Sebuah Negara yang mencapai dekade-dekade pertumbuhan cepat, stabilitas, dan pengurangan kemiskinan, sekarang mendekati kehancuran ekonomi…Tidak ada Negara dalam sejarah sekarang ini, terkecuali Indonesia, yang pernah mengalami pemutar balikan nasib dramatis sedemikian rupa”. Tidak ada yang pernah menyangka bahwa krisis berat ini akan terjadi karena keadaan perekonomian dan pemerintahan sangat tenang.
      Pertumbuhan ekonomi pada waktu itu kuat, dan semua fakta yang ada membuktikan bahwa keuntungan-keuntungan sangat besar dan meluas. Badan pusat statistik (BPS) memperkirakan presentasi penduduk dalam kemiskinan berangsur-angsur turun di era 1900an, dari 15,1 persen pada tahun 1990 menjadi 13,7 persen pada tahun 1993 dan 11,3 persen pada tahun 1996.
 Bahkan pada awal tahun 1996 dikabarkan bahwa Indonesia akan merakit mobil nasionalnya sendiri di dalam negeri, yang mensyaratkanadanya pembebasan pajak. Dengan Keputusan Presiden, kontrak perakitan itu jatuh ke tangan Tommy Soeharto. Namun bisnis ini kemudian menjadi skandal, karena Tommy bekerja sama dengan dengan perusahaan manufaktur mobil dari Korea, yaitu Kia, yang dibebaskan dari pajak dan bea masuk. Namun segera ketahuan bahwa usaha bersama ini sama sekali tidak akan membuat mobil nasional di Indonesia. Malah, mobil itu menjadi buatan Kia sepenuhnya yang diberi label mobil nasional di Indonesia, sehingga mampu terhindar dari segala pajak dan bea masuk serta mendatangkan keuntungan yang besar dari kedua belah pihak. Mobil baru tersebut diberi nama Timor sehingga semakin tepat menjadi mobil nasional. Soeharto menyetujui pengimporan 45.000 mobil Timor pada tahun pertama. Jepang dan Amerika Serikat memprotes keras terhadap Indonesia dalam World Trade Organization (WTO), karena penjualan ini dianggap telah melanggar peraturan perdagangan internasional.
Indikator-indikator bisnis lain juga menyebutkan bahwa pada masa pra-krisis, perekonomian di Indonesia juga mengalami kemajuan yang pesat. Investasi dan tabungan naik. ICOR menunjukkan hasil yang bagus pada masa itu. Pada akhir tahun 1996 tidak ada catatan kehilangan antusiasme investor pada rupiah atau pasar saham, tidak seperti di Thailand. Indikator-indikator kesehatan perusahaan tampak memuaskan. Industri-industri bangunan dan pasaran perumahan di kota tumbuh pesat.
Namun, rupanya keadaan inilah yang membahayakan. Karena kehidupan ekonomi tidak bisa tumbuh terus tanpa batas dan terus terjadi fluktuasi ekonomi. Gejala pasang surutnya kegiatan ekonomi secara periodik di dalam teori ekonomi disebut business cycle atau conjungtur.
Pada tahun 1997 Indonesia memiliki utang jangka pendek yang besar dan segara jatuh tempo. Karena banyak utang masuk ke dalam Indonesia yang biasanya dalam bentuk dolar Amerika, sehingga semakin membengkak karena mengikuti pergerakan mata uang rupiah yang tidak bagus.
Masalah perekonomian tidak pernah terlepas dari masalah politik. Respon pertama dari pemerintah terhadap krisis mencerminkan kesombongan dan kurangnya kesadaran terhadap realitas. Reformasi diumumkan, namun proyek para kroni dan keluarga, seperti mobil nasional Tommy, terus dilindungi. Nampaknya KKN (Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme) semakin menambah keruh keadaan. Praktik KKN menyebabkan keruntuhan perekonomian rakyat. Karena praktik korupsi menyebabkan keuangan negara menjadi tidak sehat, praktik kolusi menyebabkan pelaksanaan tatanan hukum berjalan timpang, sedangkan nepotisme memberikan keistimewaan kepada kerabat.
Awal krisis ekonomi yang melanda Indonesia mulai tampak pada pertengahan bulan Juli 1997 yaitu mulai dengan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap US dollar. Nilai tukar rupiah terhadap US dollar pada pertengahan bulan Juli 1997 adalah US $ 1 = Rp. 3.000,- dari Rp. 2.500,- terus menurun menjadi US $ 1 = Rp. 8.650,- pada tanggal 15 Januari 1998  pernah hampir mencapai US $ 1 = Rp. 17.500,-.
Pada Juni 1997, Indonesia terlihat jauh dari krisis. Tidak seperti Thailand, Indonesia memiliki inflasi yang rendah, perdagangan surplus lebih dari 900 juta dolar, persediaan mata uang luar yang besar, lebih dari 20 milyar dolar, dan sektor bank yang baik. Tapi banyak perusahaan Indonesia banyak meminjam dolar AS. Di tahun berikut, ketika rupiah menguat terhadap dolar, praktisi ini telah bekerja baik untuk perusahaan tersebut — level efektifitas hutang mereka dan biaya finansial telah berkurang pada saat harga mata uang lokal meningkat. Pada Juli, Thailand megambangkan baht, Otoritas Moneter Indonesia melebarkan jalur perdagangan dari 8 persen ke 12 persen. Rupiah mulai terserang kuat di Agustus. Pada 14 Agustus 1997, pertukaran floating teratur ditukar dengan pertukaran floating-bebas. Rupiah jatuh lebih dalam. IMF datang dengan paket bantuan 23 milyar dolar, tapi rupiah jatuh lebih dalam lagi karena ketakutan dari hutang perusahaan, penjualan rupiah, permintaan dolar yang kuat. Rupiah dan Bursa Saham Jakarta menyentuh titik terendah pada bulan September. Moody’s menurunkan hutang jangka panjang Indonesia menjadi “junk bond”. Resesi ekonomi yang kini melanda AS, juga gejolak keuangan di beberapa belahan dunia, tak boleh dipandang remeh. Pemerintah harus waspada dan antisipatif, karena resesi ekonomi AS kemungkinan semakin parah sehingga bisa berdampak hebat terhadap kehidupan ekonomi di dalam negeri. Di sisi lain, sektor keuangan di beberapa belahan dunia yang lain kini juga bergejolak dan potensial berimbas ke mana-mana, termasuk ke Indonesia.
TEMPO.CO, Jakarta – Menteri Keuangan Agus Martowardojo mengatakan krisis ekonomi di Eropa bisa masuk ke Indonesia melalui tiga jalur. “Yakni jalur Perdagangan, Peuangan, dan Kepercayaan”.
Di jalur Perdagangan, nilai ekspor diprediksi akan terpukul. Bulan lalu, Badan Pusat Statistik menyebutkan sepanjang April 2012 defisit perdagangan tercatat US$ 641,1 juta. Defisit ekspor-impor ini terbentuk karena nilai impor lebih tinggi dibanding ekspor, yakni impor US$ 16,62 miliar dan ekspor US$ 15,98 miliar. Namun Agus menyatakan, meskipun mempengaruhi stabilitas keuangan, Indonesia tak perlu tergantung pada ekspor. Ia menyatakan karena sulit mengatur kebijakan ekspor, pemerintah perlu mengendalikan impor. Pembatasan impor harus dilakukan untuk memastikan produksi dalam negeri dapat mencukupi kebutuhan domestik. Syaratnya, pembatasan impor harus memperhatikan kebutuhan dalam negeri. Pasalnya, hal ini berisiko menimbulkan kelangkaan dan memicu inflasi.
Di jalur Keuangan dan Kepercayaan. Agus menyatakan kondisi Eropa menyebabkan pemerintah mengkonsolidasikan penyehatan keuangan. Untuk mengantisipasinya, pemerintah telah menyiapkan protokol manajemen krisis. Fungsinya adalah mempertahankan kesehatan fiskal, menjaga rasio utang, dan memperkuat ekonomi domestik.
  
2.3  Kebijaksanaan Pemerintah Dalam Mengatasi Krisis Ekonomi
Adapun kebijakan-kebijakan pemerintah dalam mengatasi krisis ekonomi adalah sebagai berikut :
a.            Kebijakan Fiskal
Kebijakan fiskal adalah suatu tindakan pemerintah didalam mengatur perekonomian melalui anggaran belanja negara, dan biasanya di kaitkan dengan masalah perpajakan meskipun tidak selalu demikian, namun orang lebih melihat kebijaksaan pemerintah disektor perpajakan. Atau dengan kata lain, Kebijakan Fiskal adalah suatu kebijakan ekonomi dalam rangka mengarahkan kondisi perekonomian untuk menjadi lebih baik dengan jalan mengubah penerimaan dan pengeluaran pemerintah. Kebijakan ini mirip dengan kebijakan moneter untuk mengatur jumlah uang beredar, namun kebijakan fiskal lebih menekankan pada pengaturan pendapatan dan belanja pemerintah. Instrumen kebijakan fiskal adalah penerimaan dan pengeluaran pemerintah yang berhubungan erat dengan pajak.

Ø  Macam-Macam Anggaran

Untuk mencapai tingkat stabilitas kegiatan perekonomian, mencegah terjadinya infasi dan pengangguran serta menciptakan pertumbuhan eonomi yang pesat, dapat ditempuh dengan berbagai kebijakan anggaran. Adapun macam-macam kebijakan anggaran yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut:
a.                    Kebijakan angaran seimbang
Ahli ekonomi klasik berpendapat untuk mencapai tingkat ekonomi yang dikehendai, pemerintah harus melakukan kebijakan anggaran keseimbangan. Artinya, anggaran belanja negara harus sama dengan pendapatan negara. bila pemerintah ingin menaikan anggaran belanja maka pemerintah harus menaikan pendapatan negara sesuai kenaikan belanja tersebut. Sebaliknya, bila pendapatan negara turun maka anggaran belanja negara juga harus diturunkan agar APBN berlangsung seimbang.
b.      Kebijakan anggaran surplus
Arti kebijakan anggaran surplus adalah anggaran pendapatan negara lebih besar dari anggaran belanja. Dengan demikian pemerintah memiliki tabungan. Semakin besar tabungan maka semakin tinggi kemampuan pemerintah dalam meningkatkan dan memperluas investasi. Selanjutnya, akan memperbanyak lapangan pekerjaan dan mendorong meningkatkan produksi. Jadi, anggran yang surplus ini akan mempermudah mengarahkan tingkat kegiatan ekonomi sesuai dengan yang dikehendaki pemerintah.


c.       Kebijakan anggaran deficit
Makna kebijakan anggaran defisit adalah anggaran pendapatan negara lebih kecil dari anggaran belanja. Jadi, terdapat kekurangan pendapatan. jika pemerintah memiliki banyak tabungan yang dapat ditimbun sebelumnya, tabungan tersebut dapat digunakan untuk menutup deficit.

Tujuan kebijakan fiscal adalah untuk mempengaruhi jalannya perekonomian. Hal ini dilakukan dengan jalan memperbesar dan memperkecil pengeluaran komsumsi pemerintah (G), jumlah transfer pemerntah (Tr), dan jumlah pajak (Tx) yang diterima pemerintah sehingga dapat mempengaruhi tingkat pendapatn nasional (Y) dan tingkat kesempatan kerja (N).

                                      b.    Kebijakan Moneter 
      
Kebijaksanaan moneter adalah suatu tindakan pemerintah (atau bank sentral) untuk mempengaruhi situasi makro yang dilaksanakan melalui pasar uang beredar.[6] Usaha tersebut dilakukan agar terjadi kestabilan harga dan inflasi serta terjadinya peningkatan output keseimbangan. Dengan kata lain,Kebijakan moneter adalah proses di mana pemerintah, bank sentral, atau otoritas moneter suatu negara kontrol suplai (i) uang, (ii) ketersediaan uang, dan (iii) biaya uang atau suku bunga untuk mencapai menetapkan tujuan berorientasi pada pertumbuhan dan stabilitas ekonomi.
Kebijakan Moneter adalah tindakan yang dilakukan oleh penguasa moeneter (Bank Indonesia) untuk mempengaruhi jumlah uang yang beredar dan kredit, yang pada akhirnya akan mempegaruhi kegiatan ekonomi masyarakat.
Pengaturan jumlah uang yang beredar pada masyarakat diatur dengan cara menambah atau mengurangi jumlah uang yang beredar. Kebijakan moneter dapat digolongkan menjadi dua, yaitu :

1.      Kebijakan Moneter Ekspansif / Monetary Expansive Policy
Adalah suatu kebijakan dalam rangka menambah jumlah uang yang beredar yaitu dengan cara :
a. Menaikan suku bunga
b. Menjual surat berharga
c. Menaikan cadangan kas
d. Membatasi pemberian kredit

2.      Kebijakan Moneter Kontraktif / Monetary Contractive Policy
 Adalah suatu kebijakan dalam rangka mengurangi jumlah uang yang beredar. Disebut juga dengan kebijakan uang ketat (tight money policy)
a. Menurunkan tungkat suku bunga
b. Membeli surat-surat berharga
c. Menurunkan cadangan Kas
d. Memberikan kredit longgar.

Kebijakan Moneter bertumpu pada hubungan antara tingkat bunga dalam suatu perekonomian, yaitu harga di mana uang yang bisa dipinjam, dan pasokan total uang. Kebijakan moneter menggunakan berbagai alat untuk mengontrol salah satu atau kedua, untuk mempengaruhi hasil seperti pertumbuhan ekonomi, inflasi, nilai tukar dengan mata uang lainnya dan pengangguran. Dimana mata uang adalah di bawah monopoli penerbitan, atau dimana ada sistem diatur menerbitkan mata uang melalui bank-bank yang terkait dengan bank sentral, otoritas moneter memiliki kemampuan untuk mengubah jumlah uang beredar dan dengan demikian mempengaruhi tingkat suku bunga (untuk mencapai kebijakan gol). 

  

Ø  Macam-macam kebijakan moneter

a.       Operasi Pasar Terbuka (Open Market Operation) 
Operasi pasar terbuka adalah tindakan bank sentral membeli atau menjual surat-surat berharga di pasar uang. Pembelian surat-surat berharga oleh bank sentral akan menaikkan jumlah uang yang beredar dalam masyarakat. Dan begitu sebaliknya bila bank sentral menjual surat-surat berharga di pasar uang.      
b.      Kebijakan Diskonto (Discount Policy)
Yaitu kebijakan pemerintah dengan jalan menaikkan suku bunga pada saat inflasi dan   \menurunkan pada saat deflasi, ditunjukkan untuk menaikkan tingkat bunga karena dengan bunga kredit tinggi maka aktivitas ekonomi yang menggunakan dana pinjaman akan tertahan karena modal diskontonya atau discount rate policy (tingkat bunga yang dikenakan pada bank umum atas pinjaman dana yang diberikan), maka jumlah uang yang beredar cenderung berkurang, begitu sebaliknya.
 c .    Kebijakan Cadangan kas (Cash Ratio Policy)
Yaitu kebijakan pemerintah dengan jalan menaikkan cadangan kas pada saat inflasi dan menurunkan cadangan kas pada saat deflasi, atau bisa juga menaikkan perbandingan antara uang yang beredar dengan uang yan mengendap di dalam kas mengakibatkan kemampuan bank untuk menciptakan kredit berkurang sehingga jumlah uang yang beredar akan berkurang. Cara baru untuk mempengaruhi jumlah uang yang beredar di masyarakat yaitu dengan car amengubah-ubah minimum kas rasio. Bank sentral pada umumnya menentukan anka banding minimum antara uang tunai dengan kewajiban giral bank. Angka banding tersebut biasa disebut minimum cash ratio. Bila pemerintah menurunkan minimum kas rasio, maka dengan uang tunai yang sama bank dapt menciptakan uang lebih banyak dari jumlah sebelumnya.
d.      Kebijakan Kredit Ketat     
Yaitu kebijakan pemerintah dengan mengurangi jumlah uang yang beredar  cara memperketat pemberian kredit, kredit boleh diberikan asal memenuhi syarat 5C, Character, Capability, collateral, capital, dan Condition of economy, tetapi pada saat deflasi syarat dapat dipelonggar. Bank sentral (Bank Indonesia) berusaha mempengaruhi bank-bank umum dalam hal memberikan kredit kepada nasabah melalui berbagai macam peraturan kredit.


            e.   Kebijakan dorongan moral (moral suasion) 
Himbauan moral adalah kebijakan moneter untuk mengatur jumlah uang beredar dengan jalan    memberi imbauan kepada pelaku ekonomi. Contohnya seperti menghimbau perbankan pemberi kredit untuk berhati-hati dalam mengeluarkan kredit untuk mengurangi jumlah uang beredar dan menghimbau agar bank meminjam uang lebih ke bank sentral untuk memperbanyak jumlah uang beredar pada perekonomian. 
f. kebijakan sanering
Yaitu kebijakan memotong nilai nominal pada saat inflasi, misalnya  Rp 1.000,00 menjadi Rp 1,00.
g. Kebijakan Devaluasi
 
           Yaitu menurunkan nilai mata uang asing, dengan tujuan mendorong ekspor dan menghambat impor
h.      Kebijakan Revaluasi 
     
       Yaitu kebijakan menaikkan nilai mata uang sendiri terhadap nilai mata uang asing.

2.4   Pemerintah Juga Keluarkan 4 Paket Kebijakan Untuk Cegah Krisis        Ekonomi
Pemerintah menetapkan empat (4) paket kebijakan pemerintah guna mencegah terjadinya krisis ekonomi, menyusul merosotnya nilai tukar rupiah dan penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Menteri Koordinator bidang Perekonomian Hatta Rajasa mengatakan, paket kebijakan pemerintah merupakan gabungan kebijakan Kementerian Perekonomian, Bank Indonesia (BI), dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
            Paket kebijakan ekonomi yang diambil pemerintah ini dilakukan untuk menjaga pertumbuhan ekonomi terjaga, dan dampak guncangan ekonomi ke dunia usaha minim, sehingga penyediaan lapangan pekerjaan terjaga. "Dengan langkah-langkah ini, maka diharapkan defisit transaksi berjalan pada triwulan III dan IV akan menurun, dan pertumbuhan ekonomi dapat kita jaga. Paket kebijakan ini kita kombinasikan juga dengan paket dari BI dan OJK yang utamanya menstabilkan sektor keuangan dan nilai tukar.



Berikut 4 (empat) paket kebijakan ekonomi pemerintah yaitu:

Paket pertama
Dibuat untuk memperbaiki defisit transaksi berjalan dan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS. Dalam paket ini yang akan dilakukan adalah mendorong ekspor dan memberikan keringan pajak kepada industri yang berorientasi ekspor. “Pemerintah juga akan menurunkan impor migas dengan memperbesar biodiesel dalam solar untuk mengurangi konsumsi solar yang berasal dari impor,” kata Menko Perekonomian Hatta Rajasa.
Kemudian, pemerintah juga akan menetapkan pajak barang mewah lebih tinggi untuk mobil CBU dan barang-barang impor bermerek dari rata-rata 75% menjadi 125% hingga 150%. Lalu, pemerintah juga akan memperbaiki ekspor mineral.

Paket kedua
Untuk menjaga pertumbuhan ekonomi. Pemerintah akan memastikan defisit APBN-2013 tetap sebesar 2,38% dan pembiayaan aman. “Pemerintah akan memberikan insentif kepada industri padat karya, termasuk keringanan pajak,” ungkap Menko Perekonomian. 

Paket ketiga 
Untuk menjaga daya beli. Dalam hal ini, pemerintah berkoordinasi dengan BI untuk menjaga gejolak harga dan inflasi. “Pemerintah berencana mengubah tata niaga daging sapi dan hortikultura, dari impor berdasarkan kuota menjadi mekanisme impor dengan mengandalkan harga,” papar Hatta Rajasa.

Paket keempat
Untuk mempercepat investasi, pemerintah akan mengefektifkan sistem layanan terpadu satu pintu perizinan investasi. Sebagai contoh, Hatta mengatakan, saat ini sudah dirumuskan pemangkasan perizinan hulu migas dari tadinya 69 izin menjadi 8 izin saja.


"Pemerintah juga akan mempercepat revisi peraturan daftar negatif investasi (DNI), mempercepat investasi di sektor berorientasi ekspor dengan memberikan insentif, serta percepatan renegosiasi kontrak karya pertambangan," kata Hatta.
Hatta juga mengatakan, proyek-proyek infrastruktur strategi akan dipercepat. Ini semua dilakukan agar neraca transaksi berjalan turun dan pertumbuhan ekonomi bisa dijaga tahun ini.



























BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Krisis ekonomi Global merupakan peristiwa di mana seluruh sektor ekonomi pasar dunia mengalami keruntuhan dan mempengaruhi sektor lainnya di seluruh dunia. Krisis ekonomi Global terjadi karena permasalahan ekonomi pasar di sluruh dunia yang tidak dapat dielakkan karena kebangkrutan maupun adanya situasi ekonomi yang carut marut.
Salah satu cara yang dapat di gunakan dalam mengatasi krisis ekonomi adalah Kebijakal Fiskal dan kebijakan Moneter. Kebijakan fiskal dan moneter adalah kebijakan yang di lakukan dengan tujuan untuk mengelola isi permintaan barang dan jasa, untuk mempertahankan produksi Yang mendekati full employment dan untuk mempertahankan tingkat harga barang dan jasa agar inflasi dan deflasi tidak terjadi.
Kebijakan fiskal dan kebijakan moneter satu sama lain saling berpengaruh dalam kegiatan perekonomian. Masing – masing variabel kebijakan tersebut, kebijakan fiskal dipengaruhi oleh dua variabel utama, yaitu pajak (tax) dan pengeluaran pemerintah (goverment expenditure).
Krisis global saat ini jauh lebih parah dari perkiraan semula dan suasana ketidakpastiannya sangat tinggi. Kepercayaan masyarakat dunia terhadap perekonomian menurun tajam. Akibatnya, gambaran ekonomi dunia terlihat makin suram dari hari ke hari walaupun semua bank sentral sudah menurunkan suku bunga sampai tingkat yang terendah. Tingkat bunga yang sedemikian rendahnya itu justru menyebabkan ruang untuk melakukan kebijakan moneter menjadi terbatas, sehingga pilihan yang tersedia hanya pada kebijakan fiscal.

3.2 Saran
Pemerintah harus mengoptimalkan kebijakan yang telah dkeluarkan untuk mengatasi krisis ekonomi yang terjadi saat ini sehingga masyarakat tidak terbelenggu dan tercekik dengan krisis ekonomi yang melanda negara ini. Selain itu segala pihak juga harus ikut bekerja sama dalam menaggulangi krisis ekonomi baik masyarakat ataupun instansi yang lainya sehingga bersama-sama dapat mengatasi krisis ekonomi yang terjadi.



Daftar Pustaka

 Diktat Ekonomi Indonesia Hlm: 83
Adiningsih, Sri. 2000. “Perkembangan Moneter Perbankan Indonesia“. PT. Gramedia, Jakarta.
http://kompas.co.id/read/xml/2008/10/02/23553141/kekhawatiran.krisis.ekonomi.global.benamkan.saham.dunia

http://putracenter.net/2009/02/10/4-penyebab-krisis-ekonomi-indonesia-tahun-1997-1998-apakah-akan-terulang-pada-krisis-ekonomi-sekarang/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar