Senin, 27 Januari 2014

Makalah Ekonomi

BAB I
PENDAHULUAN


Kinerja suatu organisasi, baik organisasi yang berorientasikan mencari keuntungan maupun organisasi pemerintah atau organisasi social atau organisasi keagamaan tergantung kepada etos kerja dari peserta organisasi bersangkutan.
Misalnya, suatu organisasi perusahaan wajib meraih keuntungan yang besar seperti direncanakan. Kinerja perusahaan tersebut dinilai baik, karena berhasil meraih keuntungan dan proses memperoleh keuntungan tersebut tanpa melanggar peraturan atau hukum yang berlaku. Kinerja perusahaan tersebut seyogianya merupakan kinerja para individual karyawan perusahaan bersangkutan.
Demikian pula, bila suatu organisasi pemerintah dapat memakmurkan sebagian besar anggota masyarakat, berarti kinerja organisasi pemerintah tersebut baik. Dalam hal inipun, kinerja tersebut akibat dari kinerja berupa etos kerja yang baik dari peserta organisasi pemerintah bersangkutan.
Bila suatu rumah sakit berhasil melayani para pasiennya dengan cara baik sehingga banyak pasien yang dapat disembuhkan, berarti kinerja pelayanan rumah sakit tersebut baik. Di samping itu, rumah sakit tersebut dapat pula memperoleh hasil lebih berupa keuntungan.
Demikian juga, suatu organisasi keagamaan yang mampu memberikan pelayanan spiritual kepada para jemaahnya, berarti organisasi keagamaan tersebut mempunyai kinerja yang baik. Seluruh jenis organisasi baik perusahaan, pemerintahan, rumah sakit meupun organisasi keagamaan dengan ragam tujuan yang berbeda dinilai berkinerja baik bila meraih keberhasilan.





BAB II
PEMBAHASAN

2.1    JENJANG KINERJA DALAM ORGANISASI
A.    Kinerja dalam Organisasi Perusahaan dan Faktor yang Mempengaruhinya
1.      Jenis Kinerja dalam Perusahaan              
Dari pandangan manajemen umum, kinerja organisasi khususnya organisasi perusahaan harus dinilai berdasarkan tiga kriteria sebagai berikut:
a.       Kinerja Administratif
Kinerja administrative berkaitan dengan kinerja administrasi organisasi, tentang struktur asministratif yang mengatur hubungan otoritas (wewenang) dan tanggung jawab dari orang yang menduduki jabatan atau bekerja ada unit-unit kerja yang terdapat dalam organisasi. Disamping itu, berkaitan dengan kinerja dari mekanisme aliran informasi antarunit kerja dalam organisasi, agar tercapai sinkronisasi kerja antar unit kerja.
b.      Kinerja oprasional
Kinerja operasional mengacu pada efektifitas dimana perusahaan memepekerjakan Sumber Daya Manusia tersebut. Misalnya kinerja dari seorang manajer akuntantsi diukur dengan ketepatan dan kecepatan menyajikan informasi keuangan perusahaan sehingga top manager dapat dengan cepat dan tepat mengambil keputusan yang penting
c.       Kinerja Strategik
Kinerja stategik suatu perusahaan dievluasi atas ketepatan perusahaan dalam memilih lingkungannya dan kemampuan adaptasi (penyesuaian) perusahaan bersangkutan atas lingkungan hidupnya dimana dia beroperasi.
Dalam merencanakan kinerjanya harus memperhatikan berbagai faktor luar (lingkungan) sebagai berikut:
·         Permintaan industry (industry demand) yang meliputi:
-        Pertumbuhan (growth)
-        Stabilitasnya (stability)
-        Siklus hidupnya (stage in life cycle)
·         Kecenderungan kompetitif (competitive trend). Dalam hal ini dapat dikatakan merupakan penawaran industry (industry supply) yang meliputi:
-        Masukka perusahaan baru (entry)
-        Besarnya struktur kompetisi (size of cempetation structure)
-        Hubungan antara pertumbuhan dengan kapasitas (growth to capacity)
·         Akibat adanya perubahan yang dinamis (impact of dynamics change) yang meliputi:
-        Aspek politik (political)
-        Aspek teknologi (technological)
-        Perubahan ekonomi makro, baik tingkat nasional maupun pengaruh kondisi ekonomi internasional
-        Aspek sosial (social)

2.      Lingkungan Industri
a.       Permintaan industry (industry demand)
Suatu organisasi, khususnya organisasi perusahaan dalam rangka menyusun perencanaan strategiknya harus mengamati lingkungan berupa aspek permintaan atas produk yang akan dijualnya. Apakah perkembangannya atau pertumbuhan permintaannya cenderung naik atau turun. Selain itu, aspek permintaan terhadap suatu produk, perlu diketahui siklus hidupnya (life cycle).
b.      Penawaran industri (industry supply)
Sisi lain yang berkaitan dengan rencana penjualan adalah sisi penawaran (industry supply). Faktor-faktor yang mempengaruhi penawaran suatu industri adalah masuknya suatu perusahaan baru dalam industry bersangkutan. Jumlah produksi yang akan ditawarkan oleh suatu perusahaan baru akan menambah jumlah penawaran.

3.           Dinamika Perubahan
a.       Aspek politis
Aspek politis ini merupakan faktor nonekonomis, tapi dapat mempengaruhi kehidupan dan kinerja suatu perusahaan.
b.      Aspek Teknologis
Perkembangan inovasi dalam bidang ilmu penetahuan dan teknologi (IPTEK) sangat pesat sehingga dapat mempengaruhi kinerja suatu perusahaan yang lalai dalam R & D (research and development).
c.       Ekonomi makro
Perubahan ekonomi makro dapat berbentuk perubahan kebijakan moneter, kebijakan sektor ekonomi riel.
d.      Perubahan sosial budaya
Dengan gencarnya arus informas melalui media masa (TV, radio, majalah, koeran) dapat mempengaruhi kebiasaan dan perilaku masyarakat.





2.2    TEKNIK MENETUKAN STANDAR DAN MENGUKUR KINERJA ORGANISASI
A.    Menentukan Standar Kinerja Organisasi
1.      Menentukan Sistem dan Ukuran Nilai Standar  
Menurut Robert Quinn, Sue R. Faerman, Michael P. Thompson dan Michael R. McGrath terdapat suatu aksioma dalam menilai kinerja seseorang yakni seseorang akan berkinerja lebih baik, bila dia mengetahui standar ukuran kerja sampai berapa baik dia melakukan suatu pekerjaan.
Langkah-langkah menetukan standar pengawasan kinerja yang berkaitan dengan tujuan organisasi:
Oval: Manager

Langkah 1:       Membangun suatu standar kinerja yang dilandasi untuk mencapai tujuan organisasi.
Langkah 2:       Mengukur kinerja yang sebenarnya telah dilakukan.
Langkah 3:       Membandingkan kinerja nyatanya dengan standar kinerja yang ditentukan.
Langkah 4:       Mengambil tindakan yang diperlukan, artinya bila kinerja aktualnya lebih buruk dari standar kinerja, berarti perlu pemberitahuan kepada karyawan bersangkutan untuk memperbaiki kinerjanya.
2.      Pelaksanan dan Pengawasan Standar Kinerja
Kinerja karyawan dinilai oleh atasan langsung, termasuk manajernya. Sedangkan kinerja manajer dinilai pula pejabat atasannya lagi, seterusnya demikian dan akhirnya kinerja direksi atau CEO dnilai rapat umum pemegang saham (RUPS).

3.      Ukuran Kinerja Perorangan
Dalam mengukur kinerja perorangan pada suatu organisasi, Robert E. Quinn dan kawan-kawan menerangkan:
“Kinerja setiap unit kerja harus diukur dengan metode statisti, khususnya tentang mutu suatu produksi. Para manajer harus menerima tanggung jawab atas kinerja bawahannya. Bila bawahan berkinerja buruk, jangan sekedar menyalahkan karyawan bawahan. Oleh karena itu, para manajer harus memonitor kinerja setiap bawahannya berdasarkan kendali secara statistic (statistical control).”
Cara sederhana untuk menilai kinerja perorangan yaitu:

Kinerja = Kemampuan (Kapasitas) + Motivasi

Kemampuan sesorang dapat dilihat dari keahlian atau skill yang dimiliki seseorang. Keahlian tersebut dipengaruhi oleh latar belakang pendidikan dan pengalaman. Motivasi seseorang untuk belajar sambil bekerja (learning by doing) merupakan faktor lan yang mempengaruhi kendalanya. Bila tidak mempunyai motivasi belajar dari pengalaman, atau tidak mempunyai motivasi untuk banyak belajar, maka skill yang dimiliki tidak akan bertambah






BAB III
PENUTUP

Kinerja suatu organisasi dapat diukur dengan jelas bila organisasi tersebut mempunyai tujuan yang jelas pula. Masalahnya bagaimana cara mencapai tujuan organisasi tersebut?
Tujuan organisasi dapat dicapai melalui tahap-tahap penentuan perencanaan-perencanaan yang jelas dan pragmatis. Secara teoritis dikenal 3 jenis perencanaan yang berkaitan dengan kinerja yang akan diukur. Sedangkan ukuran kinerja terdiri dari 3 jenis, yaitu:
-          Kinerja strategik
-          Kinerja administratif
-          Kinerja operasional
Dalam bab ini dijelaskan tentang faktor yang mempengaruhi kinerja stategik, berikut dengan contoh-contohnya. Faktor tersebut adalah:
-          Industry demand
-          Industry supply
-          “Impact of dynamic changes”
Industry demand (permintaan industry) dipengaruhi faktor-faktor:
-          Pertumbuhan (growth)
-          Stabilitas (stability)
-          Siklus hidup (life cyles)
Sedangkan industry supply (penawaran industry) dipengaruhi oleh:
-          Masuknya (entry) perusahaan baru
-          Besarnya struktur kompetisi (size of competition structure)
-          Hubungan pertumbuhan (growth) dengan kapasitas (capacity)
Disamping itu impact of dynamic change atau pengaruh perubahan dinamis meliputi perubahan politik, kebijakan ekonomi makro, perubahan teknologi dan perubahan yang berkaitan dengan aspek budaya masyarakat.
Hal itu semu mempengaruhi atau harus menjadi pertimbangan seorang CEO dalam menyusun perencanaan strategik organisasinya. Inipun berlaku baik untuk organisasi perusahaan, organisasi pemerintah, organisasi militer maupun organisasi sosial nirlaba lainnya.

Singkatnya dalam rangka upaya mengukur kinerja organisasi dan mengukur kinerja perorangan sebagai pelaku dalam organisasi, diperlukan membangun suatu standar ukuran kinerja terlebih dahulu. Standar ukuran kinerja yang dibuat harus sesuai dengan tujuan organisasi. Standar ukuran kinerja suatu organisasi harus diproyeksikan ke dalam standar kinerja para pelaku dalam unit-unit kerja bersangkutan.

Setelah seluruh standar kinerja tersebut ditentukan, selanjutnya digunakan untuk dibandingkan dengan kinerja sebenarnya (actual performance). Evaluasi atau kinerja harus dilakukan secara terus-menerus agar tujuan organisasi dapat tercapai secara efektif dan efisien.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar