BAB
I
PENDAHULUAN
Kinerja suatu
organisasi, baik organisasi yang berorientasikan mencari keuntungan maupun
organisasi pemerintah atau organisasi social atau organisasi keagamaan
tergantung kepada etos kerja dari peserta organisasi bersangkutan.
Misalnya, suatu
organisasi perusahaan wajib meraih keuntungan yang besar seperti direncanakan.
Kinerja perusahaan tersebut dinilai baik, karena berhasil meraih keuntungan dan
proses memperoleh keuntungan tersebut tanpa melanggar peraturan atau hukum yang
berlaku. Kinerja perusahaan tersebut seyogianya merupakan kinerja para
individual karyawan perusahaan bersangkutan.
Demikian pula, bila
suatu organisasi pemerintah dapat memakmurkan sebagian besar anggota
masyarakat, berarti kinerja organisasi pemerintah tersebut baik. Dalam hal
inipun, kinerja tersebut akibat dari kinerja berupa etos kerja yang baik dari
peserta organisasi pemerintah bersangkutan.
Bila suatu rumah sakit
berhasil melayani para pasiennya dengan cara baik sehingga banyak pasien yang
dapat disembuhkan, berarti kinerja pelayanan rumah sakit tersebut baik. Di samping
itu, rumah sakit tersebut dapat pula memperoleh hasil lebih berupa keuntungan.
Demikian juga, suatu
organisasi keagamaan yang mampu memberikan pelayanan spiritual kepada para
jemaahnya, berarti organisasi keagamaan tersebut mempunyai kinerja yang baik.
Seluruh jenis organisasi baik perusahaan, pemerintahan, rumah sakit meupun
organisasi keagamaan dengan ragam tujuan yang berbeda dinilai berkinerja baik
bila meraih keberhasilan.
BAB
II
PEMBAHASAN
2.1
JENJANG
KINERJA DALAM ORGANISASI
A. Kinerja
dalam Organisasi Perusahaan dan Faktor yang Mempengaruhinya
1.
Jenis Kinerja dalam Perusahaan
Dari pandangan manajemen
umum, kinerja organisasi khususnya organisasi perusahaan harus dinilai
berdasarkan tiga kriteria sebagai berikut:
a.
Kinerja Administratif
Kinerja administrative
berkaitan dengan kinerja administrasi organisasi, tentang struktur asministratif
yang mengatur hubungan otoritas (wewenang) dan tanggung jawab dari orang yang
menduduki jabatan atau bekerja ada unit-unit kerja yang terdapat dalam
organisasi. Disamping itu, berkaitan dengan kinerja dari mekanisme aliran
informasi antarunit kerja dalam organisasi, agar tercapai sinkronisasi kerja
antar unit kerja.
b.
Kinerja oprasional
Kinerja operasional mengacu
pada efektifitas dimana perusahaan memepekerjakan Sumber Daya Manusia tersebut.
Misalnya kinerja dari seorang manajer akuntantsi diukur dengan ketepatan dan
kecepatan menyajikan informasi keuangan perusahaan sehingga top manager dapat
dengan cepat dan tepat mengambil keputusan yang penting
c.
Kinerja Strategik
Kinerja stategik suatu
perusahaan dievluasi atas ketepatan perusahaan dalam memilih lingkungannya dan
kemampuan adaptasi (penyesuaian) perusahaan bersangkutan atas lingkungan
hidupnya dimana dia beroperasi.
Dalam merencanakan kinerjanya
harus memperhatikan berbagai faktor luar (lingkungan) sebagai berikut:
·
Permintaan industry (industry demand) yang
meliputi:
-
Pertumbuhan (growth)
-
Stabilitasnya (stability)
-
Siklus hidupnya (stage in life cycle)
·
Kecenderungan kompetitif (competitive trend).
Dalam hal ini dapat dikatakan merupakan penawaran industry (industry supply)
yang meliputi:
-
Masukka perusahaan baru (entry)
-
Besarnya struktur kompetisi (size of
cempetation structure)
-
Hubungan antara pertumbuhan dengan kapasitas
(growth to capacity)
·
Akibat adanya perubahan yang dinamis (impact of
dynamics change) yang meliputi:
-
Aspek politik (political)
-
Aspek teknologi (technological)
-
Perubahan ekonomi makro, baik tingkat nasional
maupun pengaruh kondisi ekonomi internasional
-
Aspek sosial (social)
2.
Lingkungan Industri
a.
Permintaan industry (industry demand)
Suatu organisasi, khususnya
organisasi perusahaan dalam rangka menyusun perencanaan strategiknya harus
mengamati lingkungan berupa aspek permintaan atas produk yang akan dijualnya.
Apakah perkembangannya atau pertumbuhan permintaannya cenderung naik atau
turun. Selain itu, aspek permintaan terhadap suatu produk, perlu diketahui
siklus hidupnya (life cycle).
b.
Penawaran industri (industry supply)
Sisi lain yang berkaitan
dengan rencana penjualan adalah sisi penawaran (industry supply). Faktor-faktor
yang mempengaruhi penawaran suatu industri adalah masuknya suatu perusahaan
baru dalam industry bersangkutan. Jumlah produksi yang akan ditawarkan oleh
suatu perusahaan baru akan menambah jumlah penawaran.
3. Dinamika Perubahan
a. Aspek
politis
Aspek politis ini merupakan
faktor nonekonomis, tapi dapat mempengaruhi kehidupan dan kinerja suatu
perusahaan.
b. Aspek
Teknologis
Perkembangan inovasi dalam bidang
ilmu penetahuan dan teknologi (IPTEK) sangat pesat sehingga dapat mempengaruhi
kinerja suatu perusahaan yang lalai dalam R & D (research and development).
c. Ekonomi
makro
Perubahan ekonomi makro dapat
berbentuk perubahan kebijakan moneter, kebijakan sektor ekonomi riel.
d. Perubahan
sosial budaya
Dengan gencarnya arus
informas melalui media masa (TV, radio, majalah, koeran) dapat mempengaruhi
kebiasaan dan perilaku masyarakat.
2.2
TEKNIK
MENETUKAN STANDAR DAN MENGUKUR KINERJA ORGANISASI
A. Menentukan
Standar Kinerja Organisasi
1.
Menentukan Sistem dan Ukuran Nilai Standar
Menurut Robert Quinn, Sue R.
Faerman, Michael P. Thompson dan Michael R. McGrath terdapat suatu aksioma
dalam menilai kinerja seseorang yakni seseorang akan berkinerja lebih baik,
bila dia mengetahui standar ukuran kerja sampai berapa baik dia melakukan suatu
pekerjaan.
Langkah-langkah menetukan
standar pengawasan kinerja yang berkaitan dengan tujuan organisasi:


Langkah 1:
Membangun suatu standar kinerja yang dilandasi
untuk mencapai tujuan organisasi.
Langkah 2:
Mengukur kinerja yang sebenarnya telah
dilakukan.
Langkah 3:
Membandingkan kinerja nyatanya dengan standar
kinerja yang ditentukan.
Langkah 4:
Mengambil tindakan yang diperlukan, artinya
bila kinerja aktualnya lebih buruk dari standar kinerja, berarti perlu
pemberitahuan kepada karyawan bersangkutan untuk memperbaiki kinerjanya.
2.
Pelaksanan dan Pengawasan Standar Kinerja
Kinerja karyawan dinilai oleh
atasan langsung, termasuk manajernya. Sedangkan kinerja manajer dinilai pula
pejabat atasannya lagi, seterusnya demikian dan akhirnya kinerja direksi atau
CEO dnilai rapat umum pemegang saham (RUPS).
3.
Ukuran Kinerja Perorangan
Dalam mengukur kinerja
perorangan pada suatu organisasi, Robert E. Quinn dan kawan-kawan menerangkan:
“Kinerja setiap unit kerja
harus diukur dengan metode statisti, khususnya tentang mutu suatu produksi.
Para manajer harus menerima tanggung jawab atas kinerja bawahannya. Bila
bawahan berkinerja buruk, jangan sekedar menyalahkan karyawan bawahan. Oleh
karena itu, para manajer harus memonitor kinerja setiap bawahannya berdasarkan
kendali secara statistic (statistical control).”
Cara sederhana untuk menilai
kinerja perorangan yaitu:
Kinerja
= Kemampuan (Kapasitas) + Motivasi
Kemampuan sesorang dapat
dilihat dari keahlian atau skill yang dimiliki seseorang. Keahlian tersebut
dipengaruhi oleh latar belakang pendidikan dan pengalaman. Motivasi seseorang
untuk belajar sambil bekerja (learning by doing) merupakan faktor lan yang
mempengaruhi kendalanya. Bila tidak mempunyai motivasi belajar dari pengalaman,
atau tidak mempunyai motivasi untuk banyak belajar, maka skill yang dimiliki
tidak akan bertambah
BAB
III
PENUTUP
Kinerja suatu
organisasi dapat diukur dengan jelas bila organisasi tersebut mempunyai tujuan
yang jelas pula. Masalahnya bagaimana cara mencapai tujuan organisasi tersebut?
Tujuan organisasi dapat
dicapai melalui tahap-tahap penentuan perencanaan-perencanaan yang jelas dan
pragmatis. Secara teoritis dikenal 3 jenis perencanaan yang berkaitan dengan
kinerja yang akan diukur. Sedangkan ukuran kinerja terdiri dari 3 jenis, yaitu:
-
Kinerja strategik
-
Kinerja administratif
-
Kinerja operasional
Dalam bab ini
dijelaskan tentang faktor yang mempengaruhi kinerja stategik, berikut dengan
contoh-contohnya. Faktor tersebut adalah:
-
Industry demand
-
Industry supply
-
“Impact of dynamic changes”
Industry demand (permintaan
industry) dipengaruhi faktor-faktor:
-
Pertumbuhan (growth)
-
Stabilitas (stability)
-
Siklus hidup (life cyles)
Sedangkan industry supply
(penawaran industry) dipengaruhi oleh:
-
Masuknya (entry) perusahaan baru
-
Besarnya struktur kompetisi (size of
competition structure)
-
Hubungan pertumbuhan (growth) dengan
kapasitas (capacity)
Disamping itu impact of
dynamic change atau pengaruh perubahan dinamis meliputi perubahan politik,
kebijakan ekonomi makro, perubahan teknologi dan perubahan yang berkaitan
dengan aspek budaya masyarakat.
Hal
itu semu mempengaruhi atau harus menjadi pertimbangan seorang CEO dalam
menyusun perencanaan strategik organisasinya. Inipun berlaku baik untuk
organisasi perusahaan, organisasi pemerintah, organisasi militer maupun
organisasi sosial nirlaba lainnya.
Singkatnya dalam rangka
upaya mengukur kinerja organisasi dan mengukur kinerja perorangan sebagai
pelaku dalam organisasi, diperlukan membangun suatu standar ukuran kinerja
terlebih dahulu. Standar ukuran kinerja yang dibuat harus sesuai dengan tujuan
organisasi. Standar ukuran kinerja suatu organisasi harus diproyeksikan ke
dalam standar kinerja para pelaku dalam unit-unit kerja bersangkutan.
Setelah seluruh standar
kinerja tersebut ditentukan, selanjutnya digunakan untuk dibandingkan dengan
kinerja sebenarnya (actual performance). Evaluasi atau kinerja harus dilakukan
secara terus-menerus agar tujuan organisasi dapat tercapai secara efektif dan
efisien.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar